Fawwaz Adifa Althaf (Adif) adalah adik aku. Dia masih SD
kelas 3 dan kemarin abis UTS. Kalau orang normal mau ujian, pasti ada lah
persiapan dan rasa deg-degan, malah ada yang panic sampai stress. Karena adik
aku masih SD kelas 3, jadi aku ambil yang “deg-degan” aja. Tapi dia sama sekali
enggak. Cuek banget malah. Kerjaannya main game
terus. Di hp (Adif udah punya hp, Sony Xperia Tipo, dilengkapi dengan keamanan
kunci sandi. Dan aku gak tau kode sandinya berapa. Dasar Adif pelit!), di
computer, di laptop aku, bahkan tab aku pun aku pinjemin (karena Adif maksa).
Tentu, hal ini mengundang amarah Ibu. “Adif, kamu teh mau UTS malah main game terus! Ayo belajar!” Dengan malas,
Adif duduk di samping Ibu di meja makan. Ya, meja makan. Soalnya Adif belum
punya meja belajar, kamarnya aja masih sama Ibu dan Bapak.
“Besok jadwal ujiannya apa, De?” tanya Ibu baik-baik.
“Gatao,” jawab Adif cuek.
Hening.
Tiba-tiba…
“KAMU TEH GIMANA, SIH, MASA YANG MAU UJIAN GATAU JADWALNYA?” Ibu
meledak. Adif langsung pura-pura mati.
•••
Jadwal ujian hari pertama adalah Agama dan Bahasa Inggris.
Aku akui, Adif lumayan jago di mata pelajaran bahasa asing ini. Dia tanpa
kesulitan menulis ejaan kata yang berbeda dengan pelafalannya. Daya ingat dan
menghafalnya juga bagus.
Ibu membuka-buka buku catatan Bahasa Inggris Adif. Kemudian
Ibu mengetes Adif vocabulary yang
sudah Adif pelajari. “Sekolah Bahasa Inggris-nya apa?”
“School,” jawab Adif.
“Guru?”
“Teacher.”
“KS. Apa KS? De, apa KS?”
“Oh, ini Kepala Sekolah.”
“Kamu teh kalau nulis jangan disingkat-singkat! Lah ini apa
HM?”
“Headmaster.”
“Ya ampun, De! Kenapa nulisnya disingkat? Gak boleh!” protes
Ibu.
“Habis aku capek nulisnya.”
“…” Ibu udah capek duluan mau marah-marah. Memang, adik aku
ini pintar. -_____-
•••
Biasanya, Adif kalau tidur larut malam. Disuruh tidur susaaah
banget!
“Adif, tidur!” suruh Ibu. “Besok sekolah!” Jam menunjukkan
pukul 8 malam.
“Nanti, Ibu. Aku masih belum ngantuk,” jawab Adif.
Sejam
kemudian…
“Adif, ayo tidur!” suruh Ibu lagi. “Besok
takut bangun kesiangan!” Padahal
biasanya juga bangunnya siang.
“Nanti, Ibu. Aku masih ingin noton
TV.”
Sejam
kemudian, Ibu tidak memanggil Adif lagi. Ternyata Ibu udah tidur.
Tapi di pekan UTS ini Adif jadi rajin tidur. Masih jam 4 sore
juga udah bilang ngantuk. Di suatu sore, Ibu memberikan pertanyaan seputar IPS,
“tanggal berapa diperingati Hari Sumpah Pemuda?”
“Uh,,, emmm tahun 1928,” jawab Adif ragu.
“Iya, tapi tanggalnya BERAPA?” Nada Ibu meninggi.
“Emmm aku lupa.” Suara Adif gemetaran.
“Masa lupa? Tadi kan Ibu udah jelasin! Kamu denger gak, sih?”
Pedes banget nadanya. Kalau diibaratkan cabai, nada Ibu tadi sama dengan 102
biji cabai rawit. Oke, aku gak tau segimana pedesnya 102 biji cabai rawit. Biar
dramatis aja pake 102 biji. Hehe…
Serius deh kalau kamu diajarin Ibu aku bisa stress! Aku juga
ngalamin waktu SD diajarin (baca: dibentak) Ibu. Kayaknya waktu aku SD kelas 2
deh. Ibu ngebacain soal dan aku harus jawab dengan benar. Kalau jawabannya
salah, pasti aku kena pisau! Pisaunya itu ucapannya. Kebetulan, aku belajar di
depan TV yang acaranya film Cina, anak sama bapak pisah, dan bapaknya ngejar
anakya yang naik kereta. Slow motion
pas bapaknya lari-lari sambil nangis. Serius, menurut aku pada saat itu,
ceritanya sedih banget. Aku ikutan nangis. Pas lagi seru-serunya nangis,,, “APA
JAWABANNYA?” Suara Ibu membuyarkan keseruanku. Ternyata daritadi ibu bacain
soal tapi aku sama sekali tidak mengindahkannya. “APA JAWABANNYA? JAWAB! Yah
malah nangis! Ditanya gitu aja gak bisa jawab malah nangis! Cengeng banget,
sih!” Seram. Ya, Ibu aku memang seram kalau lagi galak. Tapi dia aslinya kalem
kok, apalagi kalau lagi tidur.
Penderitaan yang aku alami, sekarang Adif yang alami. Rasakan penderitaan yang Teteh rasakan, wahai
Adikku! Hahaha… (ketawa setan)
Tapi dasar Adif, respon dibentak-bentak gitu malah: “Ibu, aku
ngantuk. Aku ingin tidur,” Padahal masih jam setengah lima. Selanjutnya sudah
bisa ditebak respon Ibu bagaimana.
•••
Kadang, saking stress-nya diajarin (sekali lagi, baca:
dibentak) Ibu, Adif minta perlindungan ke Bapak atau ke aku yang selama ini
acuh. Soalnya aku pernah bantuin Adif jawab pertanyaan, eh malah aku yang
dimarahin Ibu.
“Teteh, tolong aku, Teteh! Sini temani aku belajar,” rengek
Adif. “Aku gak mau belajar sama Ibu lagi.” Memang gaya bicara Adif seperti
Dora.
Karena kasihan, aku rela digeret-geret ke meja makan dan Ibu
disuruh pergi oleh Adif. Awalnya, aku sabar ngajarinnya. Bacain dia penjelasan
pelajaran PKn, bacain soal dan dia tinggal jawab. Kalau dia jawabnya lancer,
aku seneng. Tapi kala udah mandek-mandek…
“Dimana diselenggarakannya Kongres Pemuda I?” aku bacain
soal.
Adif tidak menjawab.
“Ini coba baca,” saran aku sambil nunjuk LKS.
Terus dia baca sambil bergumam (gimana ceritanya baca sambil
bergumam? Ah pokoknya gitu. Bacanya kayak kumur-kumur). “Mmm tidak ketemu.”
Akhirnya Adif buka suara.
Seketika itu juga aku sewot. “Masa gak ketemu? INI SEGINI
JELAS BACAANNYA JUGA!”
Adif memilih orang berlindung yang
salah.
•••
Di hari berikutnya, Ibu ada arisan
IIDI jadi gak bisa langsung ngajarin Adif belajar sepulang sekolah. Adif udah
kegirangan aja gak ada Ibu jadi bisa main game.
Ibu baru pulang jam 3 bareng Bapak. Setelah ganti baju dan
melepas lelah, Ibu langsung semangat ngajarin Adif. Semangatnya Ibu bagaikan
cewek ngeliat baju diskonan. “Adif, anak Ibu yang ganteng, ayo kita belajar.
Besok IPA loh!” Nadanya manjain Adif banget.
Dan kalian tahu apa respon Adif? Oh, bukan, bukan langsung
meng-iya-kan atau pura-pura mati. Tapi dia masuk kamar kunci pintu.
“De, buka pintunya! Gimana, sih, kok malah ngunci pintu?”
seru Ibu sambil gedor-gedor pintu kamar.
“Aku tidak mau belajar lagi!”
“Loh ini kan buat Adif biar nilainya bagus. Cepet keluar!
Buka pitunya!”
Teryata di kamar ada Bapak lagi tidur. Dia terbangun
gara-gara teriakan Ibu lalu membukakan pintu kamar. Ibu berhasil masuk kamar
dan berniat memakan Adif. Tapi niat itu diurungkannya karena Ibu bukan kanibal.
Lebih tepatnya bukan family-cannibal.
•••
Kali ini Adif belajar di kamar. Dan kali ini dia lebih banyak
beralasan. Gerah lah, capek lah, ngantuk lah. Dan jadilah Adif berada di kamar
ber-AC sedang tiduran dan Ibu membacakan penjelasan tentang pelajaran IPA.
Kalau suara Ibu merdu, Adif bisa-bisa tidur. Anggap aja pelajaran IPA tuh
dongeng Pangeran Tidur. Tapi kenyataannya Adif tidak tidur. Jadi…
“Jadi, ada tiga macam hewan berdasarkan makanannya, yaitu:
herbivora, karnivora, dan omnivora. Karnivora adalah hewan pemakan daging.
Contohnya singa, harimau, buaya, elang. Herbivora adalah hewan pemakan
tumbuhan. Contohnya…” panjaaaang banget penjelasan Ibu. Di tengah Ibu lagi
jelasin, Adif nyeletuk “Ibu, aku haus,”. Aku yang menyaksikan kejadian ini udah
waspada aja sama Ibu yang lagi pegang pensil. Takut tiba-tiba Adif ditusuk.
“Lah Ibu yang jelasi kok kamu yang haus?” tanya Ibu, yang
anehnya, baik-baik.
Setelah minum sebotol Aqua, adif
lanjut belajar (sebenernya lebih tepat ibu yang belajar). Sekarang bagian
tanya-jawab.
Ibu : “Sebutkan tiga hewan yang tergolong
karnivora!”
Adif : “Singa,harimau, elang”
Ibu : “Pinter! Lanjut, tiga hewan yang
tegolong herbivora!”
Adif : “rusa, kelinci, sapi.”
Ibu : “Wah pinter anak Ibu! Kalau hewan yang
termasuk om-”
Adif : “Sudah Ibu, aku ngantuk.”
Saat itu
juga, Ibu mau lempar Adif ke tengah jalan.
•••
Adif gak jadi dilempar. Jadinya gambar.
Selain main game,
kesibukan Adif adalah menggambar. Gambarnya mirip hasil cakaran ayam di tanah.
Tapi Ibu-Bapak selalu bilang: “Gambarnya bagus.” Dan ternyata Ibu-Bapak lagi
merem.
Saking sibuknya Adif menggambar, dia nolak pas diajak main ke
Cirebon. “Adif mau ikut ke Cirebon gak?” tanya Ibu.
“Mau, sih, tapi aku sibuk nih tidak ada waktu.”
Hari sudah malam, Ibu menyuruh Adif mengerjakan soal-soal IPA
di LKS. Dia canggih banget ngerjain soal sambil main Angry Birds. Tangan buat nyoret kertas, kaki buat nyoret layar tab. Otak bisnis aku langsung bekerja.
Anak ini bisa ikutan sirkus dan banyak uang. Tapi setelah mikir lagi, nanti
malah dikira ‘ronggeng monyet agak canggih’.
“Sini Ibu periksa jawabannya!” Jika Ibu sudah memberi
perintah seperti itu, itu artinya Adif akan dimarahin. Hahaha… Aku gak mau
ketinggalan momen ini.
“Adif! Ini kamu salah! Ikan yang hidup di air payau itu ikan
bandeng, bukan ikan arwana!” koreksi Ibu. “KENAPA KAMU JAWABNYA IKAN ARWANA?”
Hahahaha… Aku bahagia menyaksikan pertunjukan ini.
•••
Well, ini hari terakhir UTS dan Adif terbebas dari siksaan
api neraka, maksudnya terbebas dari kewajiban belajar.
Bonus: foto Adif lagi makan pizza...